Dalam hitungan menit aku mengalami shock kenikmatan. Bokepin “Ke kafetaria yuk”, ajakku dengan tak menghiraukan gurauannya. pasti belum, kalau tidur kamu kok kuat sekali!”, omelnya. Dalam posisi berjongkok didepanku ia berusaha melepas celana dalamnya. Kemudian Indah meninggalkan penginapan sementara aku hanya dapat termenung. Mengantisipasi cubitannya yg menyakitkan, kedua tangannya kutangkap dengan cepat. “Tampangnya sih oke tapi pria seperti itu hanya mau menangnya sendiri seperti bekas suamiku yg pertama”, sambungnya. Kubaringkan badanku disebelah kirinya dan kuhadapkan tubuhku kearahnya. Rasanya ada sesuatu yg hilang, tapi entah apa itu. Kubaca lagi rencana kerja yg telah selesai kucatat, lalu kurangkai hubungan setiap langkah rencana kerja dan kubuat skemanya. “Nanti setelah Mbak kukenalkan, ganti Mbak kenalkan saya”, jawabku sambil meneguk kopiku yg masih panas dengan hati-hati.




















