Eksanti juga mengatakan di telepon, dengan suara manjanya, bahwa aku bukan hanya diundang makan malam. Tanganku mengusap-usap bukit indah di belakang Eksanti, sesekali meremasnya. Bokepin Tetapi dalam hatinya, ia berkata lain, dan berharap aku tidak segera mengakhirinya.Aku memang tidak berhenti. Aku mengatakan, “Nggak masalah, Santi “, lalu ikut menyusulnya ke pantry yang terletak di bagian belakang kamarnya.Aku berdiri di pintu pantry dengan sekaleng coca cola dingin di tanganku, melihat Eksanti sibuk mencuci sayuran segar untuk pelengkap nasi gorengku nanti, di sebuah pinggan keramik bermotif ikan-ikan kecil warna-warni. Akhir minggu itu memang hari-hari terakhir menjelang libur panjang akhir tahun, sehingga seluruh teman-teman kostnya telah pulang ke daerah asal mereka masing-masing.




















