Sedangkan aku tetap diam, tidak memberikan reaksi apa-apa. Berulang kali dia menuntun tanganku ke dadanya yang kini sudan polos. Bokepin “Kok Linda nggak bilang sih…?”, aku mendengus sambil menatap Linda yang jadi memerah wajahnya. Setengah mati Ayah dan Ibu membujuk serta menghiburku. Tapi sama Sekali aku tidak bisa apa-apa. Linda hanya diam saja. Aku memang terlahir dari keluarga yang cukup berada. Dua kakakku perempuan semuanya. Memandangi Linda yang sudah rapi berpakaian. diberi sama Mas Herman”, sahutku bangga. Padahal aku sudah punya mobil. Tapi aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang d ibisikkannya. Seakan Linda berusaha untuk membangkitkan gairah kejantananku. Tapi sebelumnya dia memberitahu kalau aku harus membalasnya dengan cara-cara yang tidak pantas untuk disebutkan.




















