Namun sayang Mbak Anie mengaku sudah insaf dan dulu merupakan kekhilafan yang jangan sampai diulang. Bokepin “Sakit Mbak..”, tanyaku dan Mbak Anie kulihat hanya menggelengkan kepalanya sedikit dan ketika dia menciumi di sekitar telingaku kudengar dia malah berbisik, “enaak.., Maas”.Kuciumi wajahnya dan sesekali kuhisap bibirnya sambil kumulai menggerakkan pantatku naik turun pelan-pelan, dan makin lama semakin cepat. Hingga ekspresi Mbak Anie menunjukkan rasa ngilu kesakitan, namun ia diam saja, membiarkanku mencapai klimaks. Sambil meremas-remas pinggangnya, aku mendekatkan hidungku ke tengkuknya.Sampai akhirnya hidungku menempel di belakang telinga kanannya. Agar lebih leluasa aku ambil kursi dan duduk di sebelahnya. Kami ngobrol lama, aku gunakan kesempatan ini untuk membangkitkan kenangan masa lalu.




















