Di mana? Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah baya yang tahu di mana titik-titik yang harus dituju. Bokepin Ia sudah membereskan peralatan pijat. Ciut. Langkahku semangat lagi. Karena itulah, tidak akan hadir kesempatan ketiga. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”Semua penumpang menoleh ke arahku. Aku terpejam menahan air mani yang sudah di ujung. Ah masa bodo. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Keras sekali.“Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh.”Ia berdiri. Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Aku tidak tahan. Sengaja kuperlihatkan agar ia dapat melihatnya. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok.




















