Lalu kupondong dia lagi, kubawa ke kamar tidur dan kutegakkan dia di sana selagi aku mengunci pintu kamar. “Enak Om, tapi dada rasanya panas.” Aku juga mereguk dari slokiku. Bokepin Disamping pemuda itu dia tersandar di sudut sofa dengan wajah merah saga, rambut awut-awutan dan blus sekolah yang acak-acakan, kerut-merut di bagian dada.“Kok cepat pulangnya Om?” Andi tidak kelihatan kikuk sama sekali.“Ah biasa”, jawabku, “Sudah lama?”, kupandang gadis itu sekilas yang hanya menundukkan wajah tak berani memandangku. Dan seperti kesetanan kutusuk lagi dia lebih dalam sampai seluruh batangku tenggelam lagi dan kepala penisku menyentuh dasar rahimnya. Cukup sudah. Dia diam, dan beberapa saat menunggu jawaban kulihat rupanya dia sudah tertidur. Dan sesudahnya apa Mita boleh berbaring di kamar Om?




















