Ia mengambil sebilah rotan tipis dari tas lalu mulai memukuli pantat Dian. Bokepin “AAAAAAAAH” teriak Dian sekeras-kerasnya, jauh lebih keras daripada saat dipukuli. Si Botak pun kembali mencambuk pantat Dian sebelum ia sempat bergerak. Kedua temannya, satu yang berkumis, dan satu yang botak, kemudian menyeret Dian dan adiknya, Felia, ke ruang utama tempat saya diikat. Keluarga saya hidup pas-pasan, namun syukurlah saya dikarunia dua anak perempuan yang cantik-cantik. Saya baru menyadari belakangan bahwa saya salah bicara. Dengan kasar mereka melucuti pakaian Felia dan melemparnya ke arahku. Singkat cerita, mereka mengobrak-abrik rumah saya untuk menemukan Dian, sementara si hitam mengikat saya di kursi agar tidak melawan. Ia lalu memeloroti celana dalam Dian ke bawah, sehingga kedua belahan pantat Dian tidak ditutupi sehelai benang




















